Candi Borobudur, yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang tidak hanya memukau dari segi arsitektur, tetapi juga menyimpan kisah panjang yang penuh misteri dan perjuangan. Candi ini tidak hanya menjadi simbol kebesaran peradaban Buddha di Indonesia, tetapi juga menjadi simbol kejeniusan manusia dalam merancang dan membangun struktur yang begitu megah. Proses konstruksi Borobudur tidak terlepas dari berbagai faktor sejarah, teknologi, dan budaya yang sangat erat kaitannya dengan masyarakat pada masanya, cerita di balik konstruksi salah satu keajaiban dunia.
Asal Usul dan Pembangunan Candi Borobudur
Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 oleh Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Pembangunan candi ini berlangsung selama lebih dari 70 tahun, dari sekitar tahun 780 hingga 850 Masehi. Candi ini bukan hanya sekadar tempat ibadah, melainkan juga pusat pendidikan dan penyebaran ajaran Buddha Mahayana di Jawa Tengah pada masa itu. Dengan bentuk mandala yang menggambarkan alam semesta, Borobudur mengandung filosofi yang sangat dalam tentang perjalanan hidup dan spiritualitas.
Proses pembangunan Candi Borobudur diperkirakan melibatkan ribuan pekerja terampil, termasuk tukang batu, pengukir, dan tenaga kerja lainnya. Batu-batu andesit yang digunakan dalam pembangunan candi diambil dari pegunungan sekitar, terutama dari Gunung Merapi, yang terkenal dengan batu vulkaniknya yang keras dan kokoh. Sebagian besar batu dipotong dan dibentuk terlebih dahulu sebelum dipasang di lokasi konstruksi, yang dilakukan dengan teknik manual yang sangat teliti.
Desain dan Arsitektur yang Mengesankan
Arsitektur Candi Borobudur mencerminkan keindahan seni dan teknologi konstruksi masa lalu. Candi ini terdiri dari sembilan tingkat, yang terdiri dari enam platform persegi dan tiga platform berbentuk lingkaran di puncaknya. Setiap tingkat memiliki makna filosofis yang dalam, yang menggambarkan perjalanan spiritual seseorang menuju pencerahan.
Relief-relief yang terdapat di dinding Borobudur adalah bagian penting dari cerita di balik konstruksi ini. Relief ini menggambarkan kehidupan Sang Buddha, ajaran moral, serta kisah-kisah dari Kitab Tripitaka dan Jataka. Lebih dari 2.600 panel relief ini menghiasi dinding dan balustrade candi, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan ajaran Buddha kepada masyarakat pada masa itu.
Di puncak Borobudur, terdapat stupa besar yang melambangkan pencapaian tertinggi dalam ajaran Buddha. Di sekitar stupa utama, terdapat 72 stupa kecil yang masing-masing berisi patung Buddha yang menghadap ke luar. Konsep ini menggambarkan perjalanan menuju Nirwana yang disimbolkan dengan naiknya level-level di candi, dari duniawi hingga spiritual.
Proses Pemugaran dan Penemuan Kembali Borobudur
Setelah dibangun, Candi Borobudur sempat dilupakan oleh dunia selama beberapa abad. Letusan Gunung Merapi dan gempa bumi yang terjadi pada masa itu membuat candi ini terkubur oleh lumpur dan debu vulkanik. Candi Borobudur tertutup tanah dan tanaman liar selama berabad-abad, hingga akhirnya ditemukan kembali oleh seorang penjelajah asal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles, pada awal abad ke-19.
Raffles, yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, menemukan keberadaan Borobudur secara kebetulan pada tahun 1814. Saat itu, Borobudur sudah tertutup oleh hutan lebat, dan hanya sebagian kecil struktur candi yang tampak. Raffles yang tertarik pada temuan ini segera memerintahkan untuk membersihkan situs tersebut. Proses pemugaran dan restorasi Borobudur dimulai pada tahun 1907 hingga 1911 oleh arkeolog Belanda, Theodore van Erp.
Pemugaran candi ini membutuhkan waktu dan upaya yang sangat besar, karena sebagian besar batu candi sudah rusak dan ada banyak bagian yang hilang. Pada masa pemugaran, teknologi pengukuran dan teknik restorasi masih sangat terbatas, sehingga restorasi Borobudur pada masa itu dilakukan secara hati-hati dan penuh perhitungan.
Perjuangan Konservasi Candi Borobudur
Sejak penemuan kembali dan restorasi pertama kali, Candi Borobudur terus menjadi fokus konservasi hingga saat ini. Pemeliharaan dan perlindungan situs ini terus dilakukan untuk menjaga kelestariannya dari kerusakan yang disebabkan oleh cuaca, polusi, dan gempa bumi. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dalam melestarikan Candi Borobudur adalah menjaga struktur batu yang rapuh dan ukiran relief yang sangat detail agar tetap utuh.
Pada tahun 1991, Candi Borobudur diakui oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Pengakuan ini membawa dampak besar bagi upaya pelestarian dan pengelolaan situs bersejarah ini. Pemerintah Indonesia dan berbagai organisasi internasional terus bekerja sama dalam merawat Borobudur dengan menggunakan teknologi canggih, seperti pemantauan kerusakan menggunakan radar dan teknologi digital.
Kesimpulan
Candi Borobudur adalah salah satu keajaiban dunia yang menakjubkan, baik dari segi arsitektur maupun sejarahnya. Konstruksinya yang megah melibatkan ribuan orang dengan keahlian tinggi pada masa itu, dan keberhasilannya membuktikan betapa luar biasa kebudayaan dan peradaban manusia pada masa lampau. Selain itu, kisah Borobudur tidak hanya berhenti pada saat pembangunannya, tetapi juga perjuangan dalam pemugaran dan pelestariannya, yang menjadikannya simbol kebudayaan dunia yang tetap hidup hingga kini.